Bank digital bunga tabungan 3% dan deposito 6% kelihatan beda jauh di brosur. Kamu punya Rp25 juta menganggur 6 bulan dan bingung, worth it nggak dikunci?
Jawabannya bukan di angka brosur, tapi di selisih bersih yang masuk ke rekening kamu. Bank digital bunga adalah imbal hasil yang dibayar bank digital atas dana tabungan dan deposito kamu, biasanya ditulis tahunan sebelum pajak.
Selisih 2 sampai 3% itu kadang cuma nambah Rp200 ribuan, kadang nambah Rp7 jutaan. Bedanya ada di tiga variabel: modal, tenor, dan biaya kunci dana. Artikel ini kasih rumus cepatnya supaya kamu bisa putuskan dalam 2 menit.
Selisih bersih setelah pajak yang actually kamu terima
Bunga brosur itu bruto. Yang kamu bawa pulang adalah bunga neto setelah PPh final. Sesuai ketentuan pajak saat ini, bunga deposito kena PPh final 20%, dipotong langsung oleh bank.
Rumusnya sederhana: selisih bersih = (bunga deposito dikurangi bunga tabungan) dikali modal dikali tenor dalam tahun, lalu dikali 0, 8. Angka 0, 8 itu penyederhanaan setelah pajak 20% untuk porsi deposito.
Contoh konkret. Misal selisih 2, 5%, modal Rp100 juta, tenor 12 bulan. Hitungannya Rp100 juta dikali 2, 5% = Rp2, 5 juta, dikali 0, 8 = Rp2 juta bersih setahun. Itu angka tambahannya, bukan total bunganya.
Kalau selisihnya sama tapi modal kamu cuma Rp10 juta, hasilnya Rp10 juta dikali 2, 5% dikali 0, 8 = Rp200 ribu setahun. Kecil, kan? Di sinilah banyak orang kecewa karena ekspektasi 2, 5% dikira besar untuk semua nominal.
Bunga tabungan juga bisa kena pajak kalau bunganya di atas batas tertentu sesuai kebijakan masing-masing bank dan aturan pajak. Tapi untuk keputusan cepat, fokus ke selisih deposito setelah pajak karena itu yang paling pasti kepotong.
Modal berapa supaya selisih 2-3% terasa?
Selisih persen baru penting kalau diubah jadi rupiah. Patokan kasar saya: di bawah Rp50 juta, beda 2 sampai 3% jarang mengubah hidup. Di atas Rp100 juta dan tenor 6 sampai 12 bulan, bedanya mulai layak dikejar.
Bagian ini saya pecah per nominal supaya kamu langsung lihat posisi kamu. Semua angka di bawah adalah ilustrasi dengan misal selisih 2, 5% dan sudah dipotong pajak 20% di sisi deposito.
Modal Rp10 juta: bedanya uang jajan
Tenor 3 bulan, selisih bersih sekitar Rp50 ribu. Tenor 6 bulan sekitar Rp100 ribu. Tenor 12 bulan sekitar Rp200 ribu. Fleksibilitas tabungan hampir selalu menang di nominal ini.
Modal Rp100 juta: mulai layak dikunci
Tenor 3 bulan, selisih bersih sekitar Rp500 ribu. Tenor 6 bulan sekitar Rp1 juta. Tenor 12 bulan sekitar Rp2 juta. Kalau dana ini memang nggak dipakai 6 bulan, deposito masuk akal.
Modal Rp500 juta: selisih kecil jadi besar
Tenor 6 bulan, selisih bersih sekitar Rp5 juta. Tenor 12 bulan sekitar Rp10 juta. Di nominal ini, beda 1% saja setara Rp4 juta bersih setahun. Pantas dicek sampai ke syarat bank digital vs bank dan jaminan LPS-nya.
| Modal dan tenor | Selisih kotor 2, 5% | Estimasi bersih |
|---|---|---|
| Rp10 juta, 12 bulan | Rp250 ribu | Rp200 ribu |
| Rp100 juta, 6 bulan | Rp1, 25 juta | Rp1 juta |
| Rp500 juta, 12 bulan | Rp12, 5 juta | Rp10 juta |
Angka tabel itu belum termasuk penalti kalau kamu cairkan lebih cepat. Itu yang sering menghapus semua keuntungan di atas.
Cara bunga dihitung: harian vs jatuh tempo

Ini mekanisme yang jarang dijelaskan. Tabungan bank digital umumnya dihitung harian dari saldo akhir hari, lalu dibayar bulanan. Saldo naik turun tetap dapat bunga prorata.
Deposito beda. Bunga dihitung dari modal awal dikali tenor penuh, dan baru dibayar saat jatuh tempo atau tiap bulan tergantung pilihan produk. Kalau kamu tarik di tengah jalan, kontraknya batal.
Kenapa ini penting? Karena tabungan memberi efek compounding kecil. Bunga bulan Januari menambah saldo, lalu ikut berbunga di Februari. Deposito tanpa rollover bunga tidak compounding selama tenor berjalan.
Untuk tenor 3 sampai 6 bulan, efek compounding tabungan itu kecil, mungkin cuma belasan ribu untuk Rp50 juta. Tapi untuk dana yang sering keluar masuk, sistem harian jauh lebih adil buat kamu.
Intinya, jangan bandingkan 4% tabungan vs 6% deposito secara mentah. Bandingkan 4% yang fleksibel dan compounding bulanan vs 6% yang dikunci dan kena pajak penuh saat cair.
Kapan kunci deposito malah bikin kamu rugi?
Deposito itu kontrak kunci dana. Catch-nya ada di depan: kalau kamu butuh uang sebelum jatuh tempo, kamu kena biaya likuiditas. Ini yang memakan selisih 2 sampai 3% itu.
Setiap bank punya aturan beda soal pecah deposito. Umumnya ada tiga bentuk penalti, dan kamu harus cek di halaman syarat produk sebelum apply.
- Bunga hangus atau turun ke bunga tabungan biasa. Kamu kunci 6%, pecah di bulan ke-4, yang dibayar cuma 2% atau nol.
- Denda admin Rp50.000 sampai Rp150.000 per pencairan awal, tergantung kebijakan masing-masing bank.
- Pokok tetap aman, tapi waktu kamu hilang. Dana sempat terkunci 4 bulan tanpa hasil maksimal.
Contoh ruginya nyata. Modal Rp25 juta, selisih janji Rp312 ribu untuk 6 bulan. Kamu pecah di bulan ke-3 karena bayar kontrakan, bunga deposito hangus dan cuma dapat bunga tabungan. Selisihnya jadi nol, malah minus denda.
Aturan aman saya: hanya kunci dana yang jelas tidak dipakai sampai jatuh tempo. Dana darurat, bayar vendor, atau rekening buat usaha yang perputarannya cepat, jangan masuk deposito. Beda tipis soal bunga dan denda juga sama, telat sedikit langsung kepotong.
Kalau begini, pilih yang mana?
Pakai logika keputusan ini, bukan sekadar kejar angka terbesar. Tanya dua hal: berapa rupiah bersihnya, dan seberapa yakin dana ini nganggur?
Kalau modal di bawah Rp30 juta dan mungkin dipakai 3 bulan ke depan, pilih tabungan bank digital berbunga tinggi. Selisih Rp75 ribu sampai Rp150 ribu tidak sebanding dengan dana terkunci.
Kalau modal Rp50 juta sampai Rp100 juta dan aman tidak dipakai 6 sampai 12 bulan, pilih deposito. Selisih Rp1 juta sampai Rp2 juta bersih itu nyata dan layak untuk sekali klik.
Kalau modal di atas Rp200 juta, pecah jadi dua. Taruh penyangga 2 sampai 3 bulan pengeluaran di tabungan, sisanya kunci bertahap 3, 6, 12 bulan. Kalau satu deposito pecah, yang lain tetap jalan.
Langkah terakhir sebelum kunci: cek tiga hal di aplikasi bank. Pertama, bunga neto setelah pajak, bukan brosur. Kedua, penalti cair awal tertulis di mana. Ketiga, status penjaminan LPS dan batasnya. Kalau tiga itu jelas dan rupiah bersihnya cocok, kunci. Kalau nggak, tabungan saja sudah cukup.
Disclaimer: Seluruh konten di situs ini disediakan hanya untuk tujuan informasional dan tidak dimaksudkan sebagai saran, rekomendasi, atau ajakan untuk melakukan pinjaman maupun membeli/menjual produk apa pun—lakukan riset Anda sendiri. Setiap keputusan yang diambil pengguna mengandung risiko dan dapat menimbulkan kerugian; seluruh risiko atas keputusan tersebut menjadi tanggung jawab masing-masing pengguna, bukan tanggung jawab GENHEBAT.COM.







